Selasa, 16 Desember 2014

MENYAMBUT NATAL
Natal adalah suatu peristiwa besar yang pengaruhnya sangat besar dalam kehidupan di muka bumi dan di Sorga.  Ada beberapa cara, kegiatan dan sikap yang dilakukan oleh penduduk Sorga dan penduduk bumi untuk menyambut Natal (kelahiran Yesus Kristus).  Sikap, cara dan kegiatan tersebut di antaranya :
Para Malaikat (Penduduk Sorga)
Dalam Lukas 2 : 11-14 Firman Tuhan memberitahu bahwa pada waktu Natal (kelahiran Yesus) para Malaikat di Sorga  turun ke bumi merayakannya dengan mendendangkan puji-pujian bagi Allah.  Para malaikat meninggalkan segala keindahan dan ketenangan di Sorga  dan dating ke bumi yang penuh masalah, penuh ketidaksempurnaan untuk merayakan Natal (kelahiran Yesus).
Para Gembala Ternak (Kaum Yang Tidak Diperhitungkan Orang)
Dalam Lukas 2 : 15-18 dikisahkan bahwa ketika Malaikat memberitahukan kepada para gembala yang sedang menjaga kawanan dombanya  di Efrata maka para gembala-gembala domba itu rela meninggalkan pekerjaannya untuk sementara dan segera mencari bayi Natal itu.  Dan ketika mereka menemukan tempatnya maka walau pun mereka sadar mereka adalah orang-rang yang tidak diperhitungkan tetapi mereka pergi memberitakan kelahiran Yesus kepada orang-orang lain baik yang di kampung maupun yang di kota mereka.
Para Majus (Ahli Pengetahuan)
Kemudian dalam kitab Matius 2 : 1-10  dikisahkan bahwa pada waktu natal (Yesus lahir) ada juga orang-orang yang tinggalnya sangat jauh dari tempat dimana Yesus lahir, mereka ini adalah orang-orang dari Sirya (daerah Persia), mereka adalah imam-imam agama dan ahli meteorology  dan dalam Alkitab  disebut  orang-orang Majus.  Ketika para Majus ini mengetahui kelahiran Yesus Kristus melalui bintang di langit,  mereka tidak menunda-nunda waktunya tetapi mereka segera bersiap dan berjalan bukan dengan mobil atau pesawat atau dengan sepeda motor tetapi dengan jalan kaki dan atau menggunakan hewan tunggangan dengan tuntunan bintang yang tak bersuara; mereka membawa harta bendanya, mereka mengorbankan tenaga dan waktu yang cukup banyak karena harus berjalan kurang lebih dua tahun baru sampai ke tempat Yesus sang bayi natal itu. Dan ketika mereka sampai kepada Yesus maka mereka sujud menyembah Yesus dan mempersembahkan persembahan-persembahannya kepada Yesus.
Herodes (Penguasa/Ahli politik Dan Strategi Perang)
Dalam kitab Matius 2 : 3-8 dikisahkan bahwa pada waktu Herodes tentang berita Natal (berita kelahiran Yesus Kristus, sang raja besar), terkejutlah Herodes  dan seluruh penduduk Yerusalem.  Kata ” terkejut” dalam Matius 2 : 3 ini dalam bahasa Yunani : “Tarasso”  artinya gelisah/takut/kuatir.
Mengapa Herodes terkejut (gelisah/takut/kuatir) ?
·           Herodes ”terkejut”  karena:
ü  Takut kekuasaanya diambil alih oleh Yesus (raja yang baru lahir).
ü   Kuatir dirinya akan kehilangan kekuasaan
ü  Gelisah karena ia berpikir akan menghadapi saingan
Karena Herodes takut, kuatir dan gelisah akan kehilangan kekuasaan dan jabatannya maka ia mulai menjalankan siasat untuk mengatasi kekuatirannya, kegelisahannya, ketakutannya dengan memerintahkan pembunuhan anak-anak di Betlehem dengan harapan Bayi Natal akan terbunuh.  Namun bayi natal itu tidak terbunuh karena Allah menyuruh Yusuf dan Maria pergi ke Mesir.
Apa yang terjadi bagi Herodes atas tindakannya itu ?  Herodes mati dikutuk Allah, kematiannya sangat terhina, ia ditampar malaikat Tuhan dan mayatnya habis dimakan cacing.
Bagaimanakah Anda Menyambut Natal ?
Pada masa natal orang-orang menyambut natal dengan berbagai suasana dan kegiatan.                         Ada orang ketika natal mulai dikumandangkan, maka ia mulai menjadi gelisah/kuatir seperti Herodes. Gelisah dan kuatir memikirkan biaya-biaya yang akan dikeluarkan untuk pakaian, makanan dan minuman apa yang akan disiapkan, biaya-biaya yang akan diserahkan untuk perayaan natal dan lain sebagainya. 
Ada pula orang yang menyambut natal seperti para malaikat, seperti para gembala dan seperti orang-orang Majus.  Orang-orang yang berjiwa seperti ini ia rela mengorbankan tempat kesenangannya, film/sinetron kesenangannya dan pergi merayakan natal seperti para malaikat yang turun dari Sorga pada waktu Yesus lahir, ia akan meninggalkan rumahnya dan pergi mengumandangkan natal seperti para gembala meninggalkan kawanan ternaknya dan pergi mengumandangkan natal; orang-orang seperti ini ia rela mengorbankan tenaganya, waktunya, harta bendanya dan pergi merayakan natal dan mempersembahkan persembahan-persembahannya kepada Allah.
Ia tidak kuatir dan tidak gelisah karena ia yakin dalam iman bahwa Allah sanggup memberkati mereka di masa-masa kemudian dengan berkat yang lebih besar lagi.                                                     Bagaimanakan anda menyambut Natal ?  Adakah kita memiliki jiwa dan pengorbanan seperti para malaikat, para gembala dan orang-orang Majus ?

Alamat Facebook : https://www.facebook.com/andarias.randa

Senin, 15 Desember 2014

NATAL
Etimologi Natal
Kata “natal” berasal dari ungkapan bahasa Latin yaitu Dies Natalis (Hari Lahir). Dahulu juga dipakai istilah Melayu-Arab Maulid atau Milad. Pada negara-negara yang berbahasa Arab, hari raya Natal disebut Idul Milad. Dalam bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas, dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse atau Cristes-messe, yang berarti Misa Kristus.  Christmas biasa pula ditulis Χ'mas, suatu penyingkatan yang cocok dengan tradisi Kristen, karena huruf X dalam bahasa Yunani merupakan singkatan dari Kristus atau dalam bahasa Yunani:  Chi-Rho.  Dalam Alkitab tidak dijumpai kata "Natal", yang ada adalah kata kelahiran Yesus.

Sejarah Natal
Natal atau kelahiran Yesus Kristus jauh sebelum terjadi memang sudah disampaikan Allah melalui nubuatan para nabi. 
Pada waktu yesus Kristus lahir maka kelahiran-Nya pertama-tama dirayakan oleh Bala Tentara Sorga (Para malaikat).  Para malaikat datang kemudian mereka merayakan kelahiran Yesus dengan mengungumandangkan nyanyian puji-pujian kepada Allah menyambut lahirnya Yesus Kristus 
(Lukas 2 : 11-14). 
Pada waktu berikutnya, jauh dari Betlehem di mancanegara yakni Sirya (daerah Persia) orang-orang Majus mendapat berita melalui suatu bintang di langait bahwa seorang Raja Besar telah lahir (Yesus Kristus).  Setelah orang-orang Majus ini mengetahui bahwa bahwa Yesus Kristus telah lahir maka mereka merayakan natal (kelahiran Yesus) dengan pergi menyembah Yesus.  Perlu diingat bahwa pada waktu orang-orang Majus pergi merayakan natal (kelahiran Yesus) mereka menempu perjalanan bukan dengan transportasi modern tetapi dengan jalan kaki dan atau menggunakan hewan tunggangan selama kurang lebih dua tahun baru mereka sampai kepada Yesus sang bayi Natal.  Ketika sampai di tempat Yesus maka orang-orang Majus ini merayakan natal (kelahiran Yesus) dengan sujud menyembah dan memberikan persembahan-persembahan kepada Yesus.
Setelah orang-orang Majus merayakan natal (kelahiran Yesus) tahun-tahun berikutnya tidak ada lagi kegiatan khusus untuk merayakan peringatan tentan natal (kelahiran Yesus) itu.  Perhatian orang-orang sudah beralih kepada perkara-perkara yang lain, seperti gemparnya berbagai mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus, gemparnya pengaruh dari ajaran-ajaran Yesus, meningkatnya tensi politik dari kaum Farisi dan ahli Taurat untuk menyingkirkan Yesus, meningkatnya tensi politik dari kaum Farisi dan ahli Taurat untuk menyingkirkan Yesus,  untuk menyingkirkan pengikut Yesus (orang-orang Kristen), dan lain sebagainya.

 Perayaan Natal baru dimulai kembali pada sekitar tahun 200 M dan dilakukan oleh orang-orang Mesir di Aleksandria (Mesir). Karena hari dan tanggal kelahiran Yesus Kristus sudah tidak diketahui secara pasti maka para teolog Mesir pada waktu itu menunjuk beberapa  tanggal untuk digunakan sebagai waktu untuk perayaan Natal di antaranya tanggal 19 atau 20 April dan tanggal 20 Mei. Tetapi di daerah-daerah lain perayaan dilakukan pada tangal 5 atau 6 Januari; ada pula pada bulan Desember.  Perayaan pada tanggal 25 Desember dimulai pada tahun 221 oleh Sextus Julius Africanus, dan baru diterima secara luas pada abad ke-5 sampai sekarang.