Senin, 15 Desember 2014

NATAL
Etimologi Natal
Kata “natal” berasal dari ungkapan bahasa Latin yaitu Dies Natalis (Hari Lahir). Dahulu juga dipakai istilah Melayu-Arab Maulid atau Milad. Pada negara-negara yang berbahasa Arab, hari raya Natal disebut Idul Milad. Dalam bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas, dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse atau Cristes-messe, yang berarti Misa Kristus.  Christmas biasa pula ditulis Χ'mas, suatu penyingkatan yang cocok dengan tradisi Kristen, karena huruf X dalam bahasa Yunani merupakan singkatan dari Kristus atau dalam bahasa Yunani:  Chi-Rho.  Dalam Alkitab tidak dijumpai kata "Natal", yang ada adalah kata kelahiran Yesus.

Sejarah Natal
Natal atau kelahiran Yesus Kristus jauh sebelum terjadi memang sudah disampaikan Allah melalui nubuatan para nabi. 
Pada waktu yesus Kristus lahir maka kelahiran-Nya pertama-tama dirayakan oleh Bala Tentara Sorga (Para malaikat).  Para malaikat datang kemudian mereka merayakan kelahiran Yesus dengan mengungumandangkan nyanyian puji-pujian kepada Allah menyambut lahirnya Yesus Kristus 
(Lukas 2 : 11-14). 
Pada waktu berikutnya, jauh dari Betlehem di mancanegara yakni Sirya (daerah Persia) orang-orang Majus mendapat berita melalui suatu bintang di langait bahwa seorang Raja Besar telah lahir (Yesus Kristus).  Setelah orang-orang Majus ini mengetahui bahwa bahwa Yesus Kristus telah lahir maka mereka merayakan natal (kelahiran Yesus) dengan pergi menyembah Yesus.  Perlu diingat bahwa pada waktu orang-orang Majus pergi merayakan natal (kelahiran Yesus) mereka menempu perjalanan bukan dengan transportasi modern tetapi dengan jalan kaki dan atau menggunakan hewan tunggangan selama kurang lebih dua tahun baru mereka sampai kepada Yesus sang bayi Natal.  Ketika sampai di tempat Yesus maka orang-orang Majus ini merayakan natal (kelahiran Yesus) dengan sujud menyembah dan memberikan persembahan-persembahan kepada Yesus.
Setelah orang-orang Majus merayakan natal (kelahiran Yesus) tahun-tahun berikutnya tidak ada lagi kegiatan khusus untuk merayakan peringatan tentan natal (kelahiran Yesus) itu.  Perhatian orang-orang sudah beralih kepada perkara-perkara yang lain, seperti gemparnya berbagai mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus, gemparnya pengaruh dari ajaran-ajaran Yesus, meningkatnya tensi politik dari kaum Farisi dan ahli Taurat untuk menyingkirkan Yesus, meningkatnya tensi politik dari kaum Farisi dan ahli Taurat untuk menyingkirkan Yesus,  untuk menyingkirkan pengikut Yesus (orang-orang Kristen), dan lain sebagainya.

 Perayaan Natal baru dimulai kembali pada sekitar tahun 200 M dan dilakukan oleh orang-orang Mesir di Aleksandria (Mesir). Karena hari dan tanggal kelahiran Yesus Kristus sudah tidak diketahui secara pasti maka para teolog Mesir pada waktu itu menunjuk beberapa  tanggal untuk digunakan sebagai waktu untuk perayaan Natal di antaranya tanggal 19 atau 20 April dan tanggal 20 Mei. Tetapi di daerah-daerah lain perayaan dilakukan pada tangal 5 atau 6 Januari; ada pula pada bulan Desember.  Perayaan pada tanggal 25 Desember dimulai pada tahun 221 oleh Sextus Julius Africanus, dan baru diterima secara luas pada abad ke-5 sampai sekarang. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar